Ketika Material Membentuk Gagasan

Dalam proses desain, material sering datang setelah ide.
Bentuk ditentukan lebih dulu, lalu material dipilih untuk mewujudkannya.
Namun pada banyak karya yang menarik, hubungan itu bekerja dua arah, bukan hanya desain yang menentukan material, tetapi material juga ikut membentuk desain.
Pendekatan inilah yang terasa kuat dalam Alunan Pesisir, paviliun VIVERE Group bersama Eugenio Hendro yang hadir di JIA CURATED 2026.
Di dalamnya, material tidak diperlakukan sekadar sebagai finishing atau elemen pembentuk visual. Setiap material membawa karakter, kemampuan, dan batasannya sendiri yang kemudian menjadi bagian dari proses kreatif.
Ketika Desain Bertemu Kecerdasan Material

Salah satu tantangan utama Alunan Pesisir berada pada struktur paviliun.
Bahasa desainnya membutuhkan elemen kayu yang tetap terasa ramping, tetapi pada saat yang sama mampu membentuk karakter atap yang melengkung. Kebutuhan tersebut membawa proses desain kepada penggunaan glulam atau kayu laminasi sebagai struktur utama.
Di sinilah kolaborasi dengan Timberlab dan Buana Triarta menjadi penting.
Sebuah bentuk mungkin mudah dibayangkan dalam sketsa. Namun untuk membuatnya menjadi ruang yang benar-benar berdiri, dibutuhkan pemahaman terhadap perilaku material, struktur, proses produksi, hingga bagaimana setiap komponennya akan bertemu saat konstruksi.
Peran kolaborator kemudian tidak berhenti sebagai pihak yang menerima gambar dan mengeksekusinya.
Pengetahuan terhadap material ikut masuk ke dalam proses menerjemahkan ide.
Dengan material kayu rekayasa seperti glulam, kayu dapat dikembangkan menjadi elemen struktur dengan dimensi dan bentuk yang lebih fleksibel dibandingkan pendekatan kayu solid konvensional. Pada Alunan Pesisir, kemampuan tersebut membantu menjembatani bentuk yang diinginkan dengan kebutuhan struktur yang harus dipenuhi.
Ini memperlihatkan satu hal penting dalam proses desain: keahlian material dapat menjadi bagian dari proses berpikir kreatif.
Biarkan Material Berbicara

Karakter kayu pada Alunan Pesisir tidak disembunyikan.
Serat, warna, tekstur, dan permukaannya justru dibiarkan terlihat sebagai bagian dari identitas paviliun.
Keputusan ini terdengar sederhana, tetapi membawa perspektif yang berbeda terhadap material.
Material tidak harus selalu ditransformasikan hingga kehilangan karakternya.
Terkadang, desain justru menjadi lebih kuat ketika kita memahami apa yang sudah dimiliki material tersebut dan memberinya ruang untuk tampil apa adanya.
Prinsip serupa muncul dalam eksplorasi Karuun, material veneer rotan yang digunakan dalam Alunan Pesisir.
Alih-alih berhenti pada aplikasi veneer yang familiar, material ini dikembangkan menjadi elemen yang dapat bergerak merespons angin, dianyam menjadi bentuk tiga dimensi, serta digunakan pada permukaan meja dan bar.
Eksplorasi tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menemukan material baru.
Sering kali, inovasi muncul dari pertanyaan yang lebih sederhana:
Apa lagi yang dapat dilakukan oleh material ini?
Ketika Keahlian Perajin Bertemu Teknologi

Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika material bertemu dengan craftsmanship.
Rotan, kayu, dan teknik anyaman bukan sesuatu yang baru dalam konteks Indonesia. Namun ketika pengetahuan tersebut bertemu dengan proses desain kontemporer, material rekayasa, dan teknologi produksi, kemungkinan penggunaannya dapat berkembang jauh melampaui fungsi yang selama ini kita kenal.
Alunan Pesisir memperlihatkan pertemuan antara dua dunia yang selama ini sering diposisikan berseberangan: keahlian perajin dan teknologi.
Sisi craftsmanship membawa pengetahuan mendalam melalui pengalaman, sentuhan tangan, dan tradisi. Di sisi lain, teknologi menawarkan presisi, rekayasa teknik, serta kemampuan untuk mengolah material dengan cara-cara baru.
Keduanya tidak harus saling menggantikan. Justru di titik perjumpaan itulah, material menemukan kemungkinan bentuk dan nilai yang baru.