BERITA

|

18/08/2026

Alunan Pesisir: Merancang melalui Keterhubungan

Ada banyak cara untuk menerjemahkan alam ke dalam sebuah desain. Bentuk organik, warna natural, material alami, atau motif yang mengambil inspirasi dari alam sering menjadi pilihan yang paling terlihat.

Namun hubungan manusia dengan alam sebenarnya jauh lebih kompleks daripada apa yang dapat direpresentasikan secara visual. Hubungan tersebut bergerak, berubah, dan saling memengaruhi.

Pemikiran inilah yang menjadi salah satu titik berangkat Alunan Pesisir – Where the Rhythm Lands, paviliun yang dihadirkan VIVERE Group bersama desainer Eugenio Hendro di JIA CURATED 2026, yang berlangsung di Pengembak Beach, Bali, pada 13–17 Agustus 2026. Di bawah tema Nature Weave, JIA CURATED tahun ini membuka percakapan mengenai hubungan manusia dan alam serta bagaimana desain dapat menjadi bagian dari ekosistem kehidupan yang lebih luas.

Tetapi Alunan Pesisir memilih untuk tidak mengekspresikan alam secara literal. Yang dihadirkan ke dalam ruang justru adalah ritmenya.

Ketika Alam Menjadi Ritme

Alam tidak pernah benar-benar diam.

Ombak bergerak menuju pantai dan kembali melepaskan jejaknya di atas pasir. Saat angin berpindah tanpa suara dan cahaya terus berganti seiring waktu, manusia pun tak pernah berhenti bergerak. Manusia kian berkembang menciptakan teknologi, membangun peradaban, serta meneruskan pengetahuan dan keterampilan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dari sana, Alunan Pesisir melihat tiga ritme yang saling berkaitan: ritme manusia menuju masa depan, ritme manusia dalam membangun peradaban, dan ritme alam yang terus berlangsung di sekitar kita.

Ketiganya kemudian menemukan bentuk melalui sebuah ruang yang seolah saling menganyam.

Dari atas, struktur paviliun memperlihatkan elemen-elemen yang bertemu dan terhubung satu sama lain. Anyaman tersebut bukan sekadar gestur visual, tetapi menjadi metafora dari hubungan yang lebih luas: manusia mengambil inspirasi, ruang, dan material dari alam, sementara apa yang diciptakan manusia pada akhirnya juga membawa konsekuensi kembali terhadap lingkungan.

Di sinilah desain mulai menjadi lebih dari persoalan bentuk.

Ia menjadi cara untuk memahami hubungan.

Desain Tak Pernah Berdiri Sendiri

Sebuah ide mungkin lahir dari satu pemikiran, tetapi hampir tidak pernah diwujudkan oleh satu pihak. Di antara konsep hingga menjadi ruang nyata, terdapat dialog panjang antara desainer, pilihan material, rekayasa teknik, proses manufaktur, keahlian perajin, dan konstruksi.

Alunan Pesisir lahir dari proses kolaboratif tersebut.

VIVERE Group dan Eugenio Hendro membawa gagasan Nature Weave ke dalam pengalaman ruang, yang kemudian diterjemahkan bersama Timberlab dan Buana Triarta menjadi bentuk material dan konstruksi yang presisi.

Pada struktur utamanya, penggunaan glulam (kayu laminasi) memungkinkan eksplorasi bentuk yang relatif ramping sekaligus melengkung murni. Kayu tidak ditutupi atau dibuat kehilangan karakter dasarnya; serat, tekstur, warna, dan keaslian alaminya justru menjadi identitas utama paviliun.

Proses ini mengingatkan bahwa desain terbaik jarang hadir dari satu disiplin yang mendominasi, melainkan tumbuh saat berbagai keahlian saling melengkapi.

Desainer memahami pengalaman yang ingin diciptakan, material membawa karakter dan batasannya, para pembuat dan teknisi menemukan cara perwujudannya, sementara keahlian perajin memberikan sentuhan detail yang tak tertandingi oleh mesin.

Pada titik itulah, desain menjadi jembatan antara gagasan dan perwujudan.

Ruang untuk Dialami

Alunan Pesisir tidak hanya dirancang untuk dilihat.

Pengunjung dapat masuk, duduk, menikmati furnitur, mengamati material, serta mengalami perubahan atmosfer ruang sepanjang hari. Biru menjadi salah satu karakter visual utama, berpadu dengan warna natural kayu, sementara cahaya dan bayangan mengubah pengalaman paviliun dari siang menuju malam.

Pendekatan tersebut terasa relevan karena kehidupan tidak pernah kita alami sebagai sebuah gambar statis. Kita mengalami ruang melalui gerakan, waktu, sentuhan, cahaya, suara, temperatur, dan interaksi dengan orang lain.

Maka ketika berbicara tentang Designed for Life, desain tidak cukup hanya terlihat baik. Ia perlu hadir dalam kehidupan manusia.

Merancang melalui Keterhubungan

Mungkin itu pula yang membuat Alunan Pesisir menarik untuk dilihat lebih jauh dari sekadar sebuah paviliun pameran.

Di balik bentuknya terdapat serangkaian hubungan.

Hubungan manusia dengan alam.

Hubungan gagasan dengan material.

Hubungan desainer dengan pembuat.

Hubungan keahlian perajin dengan teknologi.

Dan hubungan antara apa yang kita ciptakan hari ini dengan kehidupan yang akan mengalaminya kemudian.

Bagi VIVERE Group, cara berpikir tersebut dekat dengan semangat Designed for Life, bahwa desain dimulai dari intensi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, kemudian diterjemahkan melalui setiap keputusan tentang bentuk, material, ruang, cara penggunaan, hingga bagaimana sebuah karya dapat terus memiliki nilai setelah fungsi awalnya selesai.

Alunan Pesisir pada akhirnya tidak hanya memberikan satu jawaban tentang bagaimana manusia seharusnya berhubungan dengan alam.

Ia menawarkan sebuah ruang untuk melihat hubungan tersebut dari perspektif yang berbeda.

Bahwa kita tidak hanya hidup di antara ruang dan benda-benda yang kita ciptakan.

Kita hidup di dalam sebuah jaringan hubungan.

Dan mungkin desain yang paling bermakna adalah desain yang memahami bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar berdiri sendiri.

Jelajahi Berita

Keberlanjutan dalam Desain

20/08/2026

Merancang Bersama Material

19/08/2026

Mengenang Bambang Permantoro

29/08/2026

VIVERE Group Perkuat Kehadiran Global melalui Paviliun IDD di Salone del Mobile Milan 2026

09/04/2026

Komisi VII DPR RI Tinjau Kapasitas dan Daya Saing Manufaktur Furniture Berorientasi Ekspor di PT Gema Graha Sarana

03/02/2026

VIVERE Peduli: Satu Hati untuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat

12/12/2025